Serba-Serbi Malang

Wukir Suryadi, Seniman Jalanan yang Eksis dengan Tarmbu (Gitar Bambu)

19-Jul-2009 22:39:25

Rambut gondrong, dandanan lusuh, dan gelang di tangan. Ciri khas kebanyakan seniman tersebut begitu melekat pada sosok Wukir Suryadi. Bukan untuk bergaya atau mencari perhatian, namun itulah sosok Wukir.

Pemuda 31 tahun dari sudut Klayatan Gang III Kota Malang ini kenyang dengan hitam putihnya dunia jalanan. Dari pojok Teater Idiot di kawasan Jl Dempo menuju bengkel teater W.S. Rendra di Jakarta. "Saya ini hidup dan besar di tengah-tengah seniman jalanan," ucapnya begitu disinggung soal pilihan menekuni dunia seni.

Wukir membeberkan, saat usia 13 tahun, dirinya telah memutuskan menggelandang di jalanan dengan mengamen. Padahal, waktu itu dia masih duduk dibangku SD. "Saya tidak tahu kenapa dulu memutuskan hidup di jalanan. Mungkin ini sebuah panggilan jiwa," ucapnya.

Karena asyik dengan dunia musik, akhirnya Wukir kecil jarang pulang ke rumah orang tuanya. Kondisi itu makin menjadi-jadi ketika dia menemukan komunitas seniman yang tergabung dalam Teater Idiot. Di situlah akhirnya hari-hari Wukir dihabiskan. "Waktu SMP proses ini berjalan terus antara Surabaya dan Malang," bebernya.

Begitu juga saat dia tumbuh menjadi anak SMA. Kehidupan di tengah-tengah seniman itu terus menjadi bagian dari dirinya. Sayangnya, proses ini sedikit tersendat karena personel Teater Idiot mulai goyah. Padahal, waktu itu dia merasa kesenian telah menjadi darah dagingnya. "Saya akhirnya memutuskan pergi ke Jakarta. Padahal waktu itu belum lulus SMA," beber pemuda yang mengaku pernah pindah-pindah sekolah ini.

Meski tanpa ijazah, Wukir nekat menuju Jakarta. Kala itu keinginannya hanya satu, yakni mengasah kemampuannya dalam berkesenian dan berteater. Namun karena tak punya siapa-siapa di Jakarta, dia pun memilih mangkal di Blok M. Sampai akhirnya, Wukir menimba ilmu di bengkel teater W.S. Rendra. Selama tiga setengah tahun pemuda yang betah melajang ini menghabiskan waktu di bengkel teater Rendra. Belajar dan belajar tentang seni. "Proses saya di sana sangat panjang dan banyak memengaruhi arah kesenian yang saya geluti," kata Wukir yang sempat menata lighting untuk Rendra saat manggung di Malaysia ini.

Namun, karena ingin lebih berkembang dan mencari jati diri, Wukir akhirnya kembali ke Blok M dan bergabung dengan kelompok jalanan yang ditukangi Anto Baret. Empat tahun lamanya Wukir membantu kelompok jalanan ini. Termasuk mengorganisasi acara-acara yang diselenggarakan Anto Baret, yang juga asal Malang. "Selama bergabung dengan kelompok jalanan, saya sering datang ke even-even kesenian. Termasuk pernah membuat konser musik bertajuk Susah Sembuh bersama teman-teman seniman Bandung," tutur dia.

Dari Blok M, perjalanan hidup Wukir terus bergulir. Setelah menghabiskan waktu empat tahun bersama Anto Baret, Wukir memilih komunitas anak jalanan (anak jalanan) Pinggir Kali (Girli) di Jogjakarta. Lalu menggelandang di Bali dan bergabung dengan Komunitas Pojok Denpasar, kisi media organ budaya Indonesia. "Saat di Bali itulah saya merasakan kehidupan yang jauh dari kata stabil untuk hal finansial," kenangnya.

Sampai akhirnya dia menemukan sebuah ide bermusik yang lain dari yang sudah ada selama ini. Dia pun menciptakan gitar bambu. Namun, jangan bayangkan bahwa gitar bambu yang kemudian dia singkat dengan nama tarmbu itu didapat dari memotong bambu yang banyak tumbuh di kebun atau pekarangan rumah. "Bambu yang saya gunakan ini adalah bambu bekas bangunan. Saya dapat waktu masih di Bali," ungkap dia.

Dengan naluri kesenian yang tinggi, bambu bekas bangunan tersebut dirangkai menjadi gitar. Lengkap dengan senar gitar dan pengaturan melodi. Bentuk ujung tarmbu yang runcing terilhami sejarah bambu runcing yang dikenal sebagai alat perang di zaman penjajahan dulu. "Tarmbu ini menghasilkan perpaduan bunyi perkusi dan terempung," terangnya.

Dari sanalah akhirnya Wukir mengaku makin fokus memantapkan pilihan berkesenian. Langkah riil yang dia lakukan adalah road show bertitel Ambient Experiment Ke-29 lokasi di 18 kota di Jawa pada 2009. Tur itu dia lakoni dengan satu partnernya, yakni Ilham J. Baday. Salah satu kota yang sempat dia singgahi adalah Kota Malang beberapa waktu lalu. "Road show ini menghabiskan waktu dua bulan sepuluh hari," tandasnya.

Karena Wukir mengaku sangat buta peta, dia sering merasa kesulitan untuk mengakses kota-kota yang belum pernah disinggahi. Seperti saat menuju Wonosobo dan Magelang. Kalau sudah begitu, biasanya Wukir mengandalkan face book atau jejaring pertemanan. "Dari sana saya merasakan bahwa peta kesenian Indonesia di daerah masih ada," kata Wukir yang mengandalkan penjualan CD instrumen musik yang digarapkan untuk bertahan hidup.

Kini, setelah lebih separo hidupnya habis di jalanan, Wukir berharap bisa membuat markas tetap. Dengan begitu, dia bisa menerima teman-teman sesama seniman dengan nyaman. Juga lebih fokus mengajarkan proses kreatif berkesenian pada orang-orang yang ingin mengenal permainan tarmbu. Satu lagi yang dia harapkan adalah kehidupan tanpa sekat agama dan ras. Pun kebebasan berkreasi untuk para seniman. "Selama ini ruang-ruang kesenian nyaris habis. Lalu mau ke mana seniman yang tak sekolah seperti saya ini," kata Wukir yang malam kemarin manggung di G-Walk Citraland, Surabaya.


 Reply Comment
 
  Abudany ( 04-Feb-2010 09:15:48 )

masio terkenal biyen sukir koncoku amen

 
Your name
Website http://
Comment
   
Image verification code
Retype image code here