Serba-Serbi Malang

Tanam Sawo Berjajar sebagai Identitas Sawojajar

04-Aug-2009 22:38:50

Terik matahari di atas Kota Malang siang kemarin terasa begitu menyengat meski sesekali mendung menyapu. Saat memasuki kompleks Perumahan Sawojajar I, panas matahari masih sangat terasa.

Tapi, kondisi itu langsung berubah saat memasuki kawasan Jl Danau Rawa Pening I, tepatnya masuk dalam wilayah RW 14 Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang. Begitu masuk gang, kesejukan langsung terasa. Pohon dengan ukuran tak begitu besar tampak berderet rapi di sepanjang jalan.

Begitu juga dengan aneka tanaman toga di tiap sudut kompleks RT. Tak ada lahan kosong secuil pun di kompleks itu karena semua lahan tak berpenghuni ditanamani aneka jenis tanaman. Ada pohon sawo, buah naga, bunga rosela, mentimun, jambu biji, angsana, blimbing, nangka, jarak, dan beragam tamanan bunga hias lainnya.

''Taman toga dengan aneka tanaman itu menjadi kebutuhan warga. Ini telah dirintis sejak tahun 1995 lalu oleh para sesepuh," kata Rochsun, ketua RW 14 Kelurahan Madyopuro, Kedungkandang, di kediamannya kemarin.

Dosen IKIP Budi Utomo ini mengisahkan, ide menghijaukan kawasan RW 14 ini bermula dari gersangnya kompleks perumahan kala itu. Karena lahan yang ditempati puluhan rumah dengan tipe 21, 36, dan 45 ini memang bekas lahan yang disiapkan untuk lapangan terbang. Dalam perjalanannya, proyek lapangan terbang gagal dan akhirnya dioper oleh pengembang.

Dibanding kawasan lain, RW 14 ini dirasa paling parah tingkat kegersangannya. Ditambah dengan dominasi rumah tipe 21 sehingga kurang mendapat perhatian pengembang. ''Jangan bayangkan seperti pengembang kawasan rumah elite yang memang menyisakan lahan untuk kawasan hijau. Di sini dulu tidak seperti itu, tipe tanah sangat keras dan sangat tandus," terang Rochsun.

Dari sanalah akhirnya para sesepuh RW 14 menggalakkan semua warga untuk menghijaukan kampung. Yang membanggakan, partisipasi warga di RT 01-07 kawasan RW 14 ini begitu kompak. Semua warga turut berpartisipasi menanami halaman rumahnya dan pekarangan yang kosong. Penanaman, perawatan, sampai proses produksi semua ditangani warga. Bahkan dulunya warga harus merogoh kocek pribadi untuk menghijaukan pekarangan masing-masing. ''Awalnya hanya ada 89 pohon mangga," kata dia.

Kemudian penghijauan itu berkembang lebih pesat lagi. Bahkan, tak lagi terkonsentrasi pada tanaman mangga. Tapi, meluas ke jenis tanaman lain. Hingga saat ini koleksi beragam tanaman di RW 14 tersebut mencapai dua ribu pohon lebih.

Rochsun menganalisa, mungkin hal itulah yang mengantarkan RW 14 meraih anugerah Hijau Lingkungan Sampoerna Hijau 2009 dalam Malam Anugerah Hijau Sampoerna Hijau Kotaku Hijau 2009 di Jakarta, 1 Agustus lalu.

Selain tingginya partisipasi warga, variasi tamanan yang begitu banyak diyakini sebagai faktor penentu kemenangan. ''Ini baru analisa saya. Karena di wilayah lain umumnya kawasan hijau disediakan pengembang," ucapnya.

Karena itu, meski awalnya bermula dari sebuah kebutuhan, semua warga merasa surprise dengan anugerah tersebut. Bahkan saat delegasi RW 14 datang dari Jakarta, Minggu malam kemarin, puluhan warga langsung menyambut. Euforia ini dilanjutkan dengan kirab trofi Anugerah Hijau Lingkungan 2009 kemarin sore dengan mengelilingi kawasan RW 14.

Bukan hanya trofi yang dikirab, banner bertuliskan juara I Anugerah Hijau Lingkungan 2009 dengan total hadiah Rp 30 juta juga turut diarak. ''Ini adalah kemenangan semua warga. Karena itu warga berhak merasakannya," tandas dia.

Khusus untuk hadiah uang tunai Rp 30 juta, lanjut Rochsun, akan digunakan dana perawatan dan melengkapi koleksi tanaman di daerah itu. Salah satunya, untuk membuat landscape atau lahan khusus sebagai cerminan wilayah Sawojajar. Yakni, dengan menanam sawo berjajar di sepanjang rumah warga. Sehingga, begitu menyebut nama Sawojajar, maka pohon sawo berjajar langsung terbersit dalam benak siapa pun. ''Kami malah berharap hadiah ini tidak berkurang. Melainkan bertambah banyak," katanya.

Hariyadi, salah satu sesepuh RW 14 dan pencetus gerakan lingkungan hijau wilayah itu, menambahkan, pohon sawo berjajar tersebut nantinya akan dirancang sebagai trade mark RW 14. Bahkan, diharapkan menjadi salah satu sentra wisata di Kota Malang. Ini karena warga yang datang sekaligus bisa menikmati hasil tanaman warga dalam berbagai kemasan olahan.

''Manajemen pengelolaan tanaman di sini berjalan cukup baik. Hasil tanam dijual dan uang digunakan untuk merawat serta menambah koleksi. Dengan begitu, warga tidak dirugikan," terang laki-laki yang mewakili RW 14 ke Jakarta Sabtu lalu.

Bahkan, konsep manajemen itu akan dia paparkan di IPB (Institut Pertanian Bogor) 8-10 Agustus bulan ini. Dalam presentasi itu, akademisi dari Jepang dan Amerika Serikat dijadwalkan turut menghadiri. ''Kami berharap manajemen ini bisa diterapkan di Indonesia. Dengan begitu, bukan hanya lingkungan hijau yang tercipta, tapi sekaligus menguntungkan," kata dia.


 Reply Comment
 
 
Your name
Website http://
Comment
   
Image verification code
Retype image code here