Serba-Serbi Malang

Sameiwaty; Berawal Sakit, Kini Dirikan Pelatihan Yoga

27-Aug-2009 02:34:06

Tinggi badannya 163 sentimeter dan berat badan 53 kilogram. Kulitnya putih bersih. Begitu ciri-ciri fisik yang dimiliki Sameiwaty, instruktur yoga yang sudah enam tahun konsisten di bidang olahraga pernapasan dengan memadukan teknik gerak tubuh tersebut. Di usia yang sudah menginjak 41 tahun, tubuh wanita yang akrab disapa Samei itu masih tetap segar dan indah.

Timbunan lemak di bagian-bagian tertentu yang biasa menghinggapi wanita seusianya nyaris tidak ada. Tampak indah di bagian perut yang diberi aksesori kalung emas. Bagian lengan dan pantat juga terlihat masih kencang. "Apa yang saya miliki (tubuh) ini karena telaten melakukan yoga. Kata teman-teman dekat saya, sekarang saya lebih segar," ucap Samei di ruang latihan Energy Power Yoga di Jl Candi Kidal, kawasan Blimbing.

Peluh masih membasahi wanita berperawakan padat berisi ini. Sesekali ibu satu anak ini menyeka keringat di dahinya. Maklum, alumnus STIE Malangkucecwara tersebut baru saja memberikan materi kepada sekitar 50 siswanya. Meski begitu, tidak terlihat kelelahan dari wanita berparas ayu ini. Sembari meladeni wawancara, dia juga menyapa siswa-siswanya yang berpamit pulang.

"Satu hari saya melatih selama 12 jam. Setiap kali pertemuan, satu jam. Istirahat pukul 12.00 sampai 14.00," ucap ibu Alex Setiawan ini. Kendati padat, satu minggu full, Same begitu menikmati melatih yoga ini.

Jumlah siswa aktif hingga saat ini 950, dari berbagai usia. Sekitar 150 siswa berjenis kelamin laki-laki. Jika ditambah dari siswa yang masuk kategori tidak aktif, jumlahnya mencapai tiga ribuan. Kategori tidak aktif ini kadang latihan terkadang berhenti.

Ketekunan Samei melatih yoga tidak lepas dari masa lalunya. Ketika usia remaja, wanita yang sebelumnya bekerja di bagian finance PT Mandalasena Perkasa Motor tersebut mengidap beberapa penyakit. Sebut saja vertigo, migrain, dan lemah jantung. Sering dia bolak-balik ke rumah sakit untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut.

Belum lagi dari riwayat keluarganya. Kedua orang tuanya yang semua sudah mendiang sama-sama meninggal karena penyakit berat. Ibunya, Hendrawasih, tutup usia akibat kanker paru-paru. Sedangkan ayahnya, Sucahyo, meninggal karena penyakit diabetes. Bahkan sebelum meninggal, kaki ayahnya sempat diamputasi. Kakak perempuannya, Suryawati, juga mengidap kanker paru-paru.

"Motivasi saya memang tinggi untuk membuat tubuh ini sehat. Kebetulan saya suka olahraga. Yang pasti pula, saya belajar yoga karena ingin sekali menularkan kemampuan saya kepada mereka yang sakit. Bahagia rasanya saat melihat orang sehat," ucap anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Tepat enam tahun lalu, Samei atas informasi Suciati terbang ke India untuk belajar yoga. Keputusan itu diambil setelah banyak mengetahui seputar yoga. Awalnya, dia tidak cukup referensi mengenai yoga. Kebetulan adiknya bekerja di salah satu maskapai penerbangan asing sehingga sering singgah ke beberapa negara. Termasuk India yang merupakan kiblat olahraga yoga.

"Niat saya ke India pertama ingin belajar yoga untuk penyembuhan penyakit saya. Bayangkan, saya mengalami ketergantungan sama obat sakit kepala. Hampir sepuluh tahun, setiap hari saya mengonsumsi obat itu (sakit kepala)," ucapnya.

Tempat menimba ilmu itu di I Yengar Yoga, Pune, India. Selama dua minggu Samei pun ditempa teori dan latihan yoga. Memasuki hari kedua latihan yoga, Samei mendapat keajaiban atas penyakit yang dideritanya. Kondisi badan terasa lebih enak. Maka, makin mantap keinginannya untuk mempelajari yoga.

Pulang ke tanah air, dia mempraktikkan sendiri apa yang telah diperoleh. Seiring berjalannya waktu, tebersit di benaknya untuk menularkan kemampuannya kepada orang lain. Utamanya orang-orang yang mengidap penyakit. Tahap awal, dia memberanikan diri mengajari rekan-rekan kerjanya. "Ternyata teman-teman juga menemukan manfaatnya meski mereka (teman-temannya) masih sebatas untuk penampilan," tambahnya.

Pelan tapi pasti, Samei membulatkan tekad untuk makin mendalami yoga. Dalam berburu ilmu, dia tidak peduli meski harus menguras kocek pribadi yang tidak sedikit. Setelah dari India, dia pergi ke Inggris selama tiga minggu. Kali ini pengetahuan yang didapatkan tentang astanga yoga atau lebih pada kekuatan tubuh. Pendalaman ilmu juga dilakukan Samei ke Hongkong. "Saya ikut Asia Yoga Conference. Di situ saya bertemu ratusan guru yoga dari seluruh dunia," ucap istri Frank Andrean tersebut.

Awal Januari 2009 lalu, Samei baru saja dari Malaysia untuk menyerap tentang detoks yoga. Tahun depan, 2010, dia sudah merencanakan belajar ke Melbourne. Cita-cita yang masih dipendam adalah melanjutkan belajar ke AS (Amerika Serikat).

Keputusan Samei untuk mengajar yoga tidak memang ingin setengah-setengah. Apalagi setelah mengetahui banyak siswanya yang pernah mengidap penyakit tertentu akhirnya sembuh setelah telaten melakukan yoga. Selama menjadi instruktur yoga, banyak kenangan yang tidak dilupakan. Pernah suatu ketika ada siswa sakit parah dan dokter sudah angkat tangan. Berobat ke Singapura dan AS pun pernah dilakukan.

"Saya tidak merasa menyembuhkan karena soal kesembuhan itu di tangan Tuhan. Saya hanya mengajari teknik yoga yang benar. Tingkat kesembuhan juga bergantung keseriusan melakukan gerakan," katanya.

Setiap gerakan ada nama dan manfaat memijat masing-masing saraf. Seperti saat Samei memberikan instruksi kepada para siswa. Kedua tangan diangkat, kaki dibuka lebar, kedua tangan dijatuhkan ke samping kanan, dan sampai menyentuh lantai. Gerakan ini dibarengi menarik napas dan membuang napas. Gerakan tersebut salah satu contoh untuk membuang racun di liver dan ginjal.

"Ada ribuan macam gerak, saya baru menguasai ratusan gerak saja. Setiap hari saya harus belajar setiap gerakan sebelum saya mengajar. Banyak tingkat kesulitan. Jadi, harus sering diulang-ulang," ungkapnya.

Kelas yang dibuka tidak serta merta untuk tujuan komersial. Buktinya, tak sedikit siswa yang tidak bisa membayar digratiskan. Apalagi jika diketahui siswa tersebut mengidap penyakit. "Soal rezeki, Tuhan yang mengatur. Kalau saya bisnis murni, saya akan cetak tenaga ahli untuk membantu saya. Tapi saya tidak lakukan itu," ujarnya. Sehingga, meski ada ratusan siswa belajar kepadanya, Samei melatih seorang diri.


 Reply Comment
 
 
Your name
Website http://
Comment
   
Image verification code
Retype image code here