Serba-Serbi Malang
Kondisi Pondok Normal
07-Aug-2009 23:35:39
![]()
Khoridah yang dituntun temannya masuk ke kantor sekolah Babussalam. Walaupun jalannya agak kurang sempurna, wanita asal Pakis berusia sekitar 17 tahun tersebut terlihat sehat. Khoridah inilah salah satu santriwati yang diambil sampelnya oleh petugas Dinkes Kabupaten Malang.
Di ponpes yang mempunyai beberapa lembaga pendidikan seperti TK, SD, MI, MTs, SMP, SMA, dan SMK informatika tersebut, Khoridah duduk di bangku kelas 1 Aliyah Diniyah. "Kondisi saya agak enak. Namun, saya masih pilek dan batuk," kata Khoridah saat ditanya oleh pimpinan Babussalam KH Thoriq Darwis di kantornya.
Khoridah sendiri, setelah badannya membaik, memutuskan untuk kembali sekolah. Dia tak menyangka bahwa sampel liur dirinya dinyatakan positif flu babi oleh Balai Besar Laboratorium Surabaya.
Satu santri Babusalam lainnya yang diambil sampelnya adalah M. Subhan, kelas 3 SMP. Dia juga dinyaakan positif flu babi. Versi ponpes, hanya dua santri yang diambil sampel. "Bukan lima santri yang diambil sampel liurnya, tapi hanya dua orang," ucap Thoriq.
Namun, menurut versi dinkes, santri yang diambil sampelnya lima orang. "Ada lima santri Babussalam yang diambil sampelnya. Semuanya positif," kata dr Agus Wahyu Arifin, kadinkes Kabupaten Malang.
Kepala Puskesmas Pagelaran dr Rosihan Anwar sendiri ketika dikonfirmasi mengenai berapa jumlah santri Babussalam yang diambil sampelnya tak bisa memberikan jawaban. "Saya tak tahu jumlah pasti santri yang diambil sampelnya. Coba, nanti saya tanyakan kepada petugasnya," ujar dia.
Kendati sampel sudah positif mengidap H1N1, kegiatan di Babussalam tetap berjalan seperti biasanya. Mereka tetap ceria seolah-olah tak ada wabah penyakit di pondoknya. Hanya sesekali terdengar batuk-batuk dari ruangan kelas. Banyak di antaranya para guru juga batuk. Sebagian besar siswa tampak ceria, namun sebagian lainnya, wajahnya tampak menunjukkan gurat wajah pucat.
Kabar adanya flu babi membuat Thoriq ketakutan. Dia khawatir, setelah para orang tua santri mendengar ponpesnya terinfeksi flu babi, mereka ramai-ramai menarik santrinya untuk pulang. "Saya takut ada penarikan paksa dari orang tua. Bila itu terjadi, saya rasa-rasanya tak mampu mencegah. Proses belajar-mengajar bisa terganggu," ratap dia.
Saat ini saja, dari sekitar 700 santri, sudah ada sekitar 40 persen yang belum diizinkan kembali ke ponpes oleh orang tuanya. Satu-satunya harapan Thoriq yang masih tersisa adalah harapan bahwa hasil laboratorium salah analisis. "Saya harap analisis laboratorium salah. Namun, kalaupun positif, saya siap menjalankan semua instruksi," sambungnya.
Ponpes sendiri sebenarnya sudah meminta bantuan masker kepada dinkes. Namun, dinkes tak mampu memberikan masker untuk semua santri. Hanya santri yang sakit yang diberi masker.
Dari pantauan Radar, maraknya kabar flu babi di Babussalam tak menyurutkan langkah Bahrowi, 45, warga Gedangan. Dia justru menitipkan anaknya untuk menimba ilmu di Babussalam. Bahkan, dia kemarin mengajak anaknya, Suhaemi, 17 dan Achmad, 7. "Namanya penyakit, bisa datang dari mana saja. Tapi, kalau masalah ilmu, saya percayakan kepada Babussalam," kata Bahrowi, yang juga alumnus Babussalam.
Anaknya, Suhaemi, yang sudah dinyatakan masuk Universitas Islam Negeri (UIN) Malang jurusan IPA diajak ke Babussalam untuk pamit kepada gurunya. "Saya tak takut terkena flu babi. Selama di sini, saya belum pernah sakit," ucap Suhaemi yang tampak santai ketika diberi tahu bahwa Babussalam positif terinfeksi N1H1.
| Reply Comment | ||
| |
||
| |
||
Index : Serba-Serbi Malang
- Moch Sueb-Titin, Orang Tua si Bayi ''Raksasa'' Bimo
- Sameiwaty; Berawal Sakit, Kini Dirikan Pelatihan Yoga
- Usai Dilantik, Utak Atik Komisi Badan Kehormatan Jadi Rebutan PD dan PDIP
- Boimin Tetap Jagokan Suhadi Digadang-gadang Jadi Ketua Dewan meski Tersandung ''Dangdut Paripurna''
- H Solichan, Korban Perampokan Tiga Kilo Emas di Jl Borobudur Yakin Bukan Musibah, Anggap Berkah dan Anugerah