Serba-Serbi Malang
H Solichan, Korban Perampokan Tiga Kilo Emas di Jl Borobudur Yakin Bukan Musibah, Anggap Berkah dan Anugerah
26-Aug-2009 04:56:44
![]()
Pagar rumah Solichan yang berada di pojokan perempatan Jl Plaosan Timur, Blimbing, Kota Malang, siang itu terbuka separoh. Di halaman berlantai semen itu ada sebuah motor bebek, sedang pintu ruang tamunya terbuka. Duduk di kursi tamu, dua pria berusia lanjut berpakaian muslim lengkap dengan kopyah haji. Keduanya menatap tajam kedatangan Radar.
''Cari siapa? Mas yang menelepon tadi ya?'' tanya pria yang duduk di kursi sofa panjang.
Mengetahui Radar tidak pernah menghubunginya melalui telepon, pria yang diketahui bernama Solichan ini lega dan mempersilakan duduk bergabung bersama mereka.
''Melalui telepon, saya nyaris ditipu oleh orang yang mengaku sebagai Kapolresta Malang. Dia minta transfer dana Rp 5 juta ke rekening Bank Mandiri untuk biaya pengejaran para pelaku perampokan,'' kata Solichan dengan kalimat terbata-bata, terlihat masih panik.
Namun belakangan, dia mengetahui jika penelepon tersebut hanyalah ulah pelaku penipuan yang mencatut nama Kapolresta Malang AKBP Daniel T.M. Silitonga. Telepon itu ia terima sekitar lima menit sebelum kedatangan wartawan koran ini.
''Memang benar itu Mas, silakan ditulis besar-besar penipuan dengan modus semacam ini. Orang sudah kena musibah, kok masih saja tega diperdaya. Beruntung Pak Solichan tidak mudah percaya,'' kata H Munir, yang duduk di sebelah Solichan.
Munir mengaku sangat trenyuh atas peristiwa perampokan di toko milik Solichan. Bukan hanya dia yang trenyuh, namun tetangganya yang lain juga ikut prihatin dan mendoakan agar Solichan tetap tegar menghadapi cobaan ini.
Peristiwa perampokan emas senilai Rp 705 juta ini bagi bapak tiga anak ini, jika dikaji secara duniawi memang sangat menyakitkan hati. Namun dia tidak melihat masalah ini dari sisi duniawi saja, namun ke-Ilahian. ''Sekarang, di bulan puasa ini, saya sedang diuji. Untuk lolos dari ujian ini saya harus kuat menghadapinya dan tidak boleh bersedih. Yang hilang ya silakan hilang, karena itu (emas) bukan milik saya. Tapi milik Allah,'' papar suami Hj Kuswati dengan menebar senyum.
Jika orang lain melihat peristiwa yang ia alami ini adalah musibah, dia meyakini adalah anugerah. Perasaan sedih yang sempat dirasakan ketiga anak dan istrinya, bergegas ia larang. Kesediahan tidak seharusnya ditunjukkan. Sebaliknya, sebagai umat Islam, perasaan legawa wajib ditunjukkan. Pengakuan pria yang menjadi bendahara masjid di Plaosan ini memang tidak berlebihan. Terlihat gaya bicaranya kalem, polos, meski tidak terstruktur.
Solichan tahu tokonya dirampok dari informasi menantunya, Taufik. Taufik membangunkan tidur siangnya dan mengatakan jika toko emasnya dirampok orang. ''Awalnya sih kaget, namun dalam perjalanan ke lokasi dengan naik motor, saya sadar dan bisa menenangkan diri,'' katanya.
Bisnis toko emas yang dibangunnya tidak berjalan mulus seperti yang dijalaninya sekarang. Untuk menjadi pengusaha emas, Solichan harus menekuninya sejak tamat bangku SD pada 1972 lalu. Saat itu, pria tamatan SD ini, harus rela bekerja di usaha milik saudaranya, Heri, yang menekuni kerajinan pembuatan tembaga di Plaosan.
Selama bekerja, Solichan junior, tampil cukup kreatif. Meski pekerjaan yang dibuat Heri hanyalah tembaga, namun diam-diam Solichan juga membuat kerajinan perak. Hingga sekitar 1977, kala itu usia 19 tahun, juragan emas ini, keluar dan ikut bekerja dengan H Buamin.
Buamin sendiri adalah pembuat emas yang bekerja dengan juragan emas asal Banjar bernama Gocang, yang membuka usaha toko emas di Pasar Besar Malang. Bersama Buamin, Solichan belajar banyak tentang seni membuat kerajinan perhiasan emas. Di antaranya, tentang model dan teknik pengerjaan yang banyak disukai pembeli. Ketekunannya membuahkan hasil. Dia dipercaya Buamin sebagai tenaga ahli untuk pembuatan emas.
Sukses merintis karir di usia muda, Solichan mempersunting istrinya, Kuswati, pada 1978. Setelah menikah, Solichan memutuskan merintis usaha sendiri dengan menjadi penyuplai perhiasan toko emas paling besar di Pasar Besar Malang yakni Toko Mas Podo Joyo. Ko Chang, pemilik toko emas tersebut sangat menyukai model perhiasan buatan Solichan. ''Seminggu saya selalu setor antara enam hingga delapan buah ke Ko Chang,'' ujar Solichan.
Perhiasan emas buatan Solichan laku keras di pasaran. Terbukti berapa pun perhiasan emas yang ia setorkan ke Ko Chang selalu diterima. Berlanjut sekitar 1980-an, Solichan memutuskan untuk mandiri dengan membuka toko emas di Jl Borobudur. Dia mengontrak sebuah bedak toko berukuran 3 x 4 meter dari seorang pengusaha bernama H Fadilah. Sekitar tahun 1985, usahanya didera krisis. Nilai jual emas anjlok hingga dia mengalami rugi besar.
Dengan susah payah, Solichan mempertahankan usahanya dan akhirnya berhasil. Empat tahun kemudian, kontrakan toko milik H Fadilah habis. Solichan mengembangkan usahanya dengan menyewa toko lagi di Jl Borobudur 12. Dari toko keduanya ini, dia memperoleh keberuntungan. Usahanya semakin maju dan pada 2008 lalu dia memutuskan untuk membeli sebuah toko di Jl Borobudur 32 yang Minggu kemarin dirampok.
| Reply Comment | ||
| |
||
| |
||
Index : Serba-Serbi Malang
- Moch Sueb-Titin, Orang Tua si Bayi ''Raksasa'' Bimo
- Sameiwaty; Berawal Sakit, Kini Dirikan Pelatihan Yoga
- Usai Dilantik, Utak Atik Komisi Badan Kehormatan Jadi Rebutan PD dan PDIP
- Boimin Tetap Jagokan Suhadi Digadang-gadang Jadi Ketua Dewan meski Tersandung ''Dangdut Paripurna''
- H Solichan, Korban Perampokan Tiga Kilo Emas di Jl Borobudur Yakin Bukan Musibah, Anggap Berkah dan Anugerah