Serba-Serbi Malang
Delegasi UB yang Menggondol Medali Emas pada Pimnas XXII Ukur Curah Hujan pun Kini Bisa Pakai Komputer
28-Jul-2009 23:22:46
![]()
Awalnya tiga anggota tim ini tidak begitu yakin akan memenangkan presentasi karya ilmiah. Makanya, begitu presentasi selesai, salah satu anggota tim bernama Suwondo langsung pulang ke daerah asalnya sebeluh hasil presentasi diumumkan. Yang tinggal di kampus Misbahul Munir dan Novita Rosyida. "Saya juga tidak yakin menang," ujar Munir.
Rasa pesimistis itu muncul ketika melihat materi presentasi yang dibawa tim UGM, ITB, dan ITS. Suwondo yang pulang kampung pun tahu itu setelah anggota timnya melihat daftar tim lain dari PKM-Teknologi. Tim MIPA ini juga sempat grogi.
Rasa grogi semakin menjadi ketiga sebelum resmi pengumuman, karya mahasiswa dari UGM, sudah diekspos di media. ''Wah kami pikir pasti itu (UGM) yang menang," kenang Munir.
Namun, rasa pesimistis seketika berubah setelah panitia mengumumkan jika karya timnya yang berjudul Rancangan Bangunan Automatic Rain Gauge Menggunakan Sensor Kapasitif diumumkan sebagai pemenang pada PKM-Teknologi. Seketika dia dan teman-temannya berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"Benar-benar tak menyangka," ujar alumni MAN 3 Kota Kediri ini. Dia pun langsung memberi tahu temannya yang pulang kampung, termasuk keluarganya di Kediri.
Ide membikin alat pengukur hujan otomatis itu muncul ketika dia dan kelompoknya berkunjung ke BMG Karangploso. Saat melihat alat pengukur curah hujan, ia menilai cara yang digunakan di sana masih manual dan kuno. Di samping itu membutuhkan biaya mahal karena harus menyiapkan tinta khusus yang harganya mahal. Belum lagi kertasnya.
Saat ini alat BMG yang disebut hilmen itu masih menggunakan cara manual untuk mencatat hasil curah hujan. Alat itu sendiri bergerak seperti pada alat pencatat gempa, lalu menggambarkan garis-garis seperti yang terdapat dalam alat pengukur gempa bumi.
Tim ini berpikir bahwa alat itu terlalu merepotkan petugas. Apalagi mereka harus keluar ruangan untuk mengganti kertas atau tinta. Padahal, tidak jarang kondisi di luar juga menyebabkan alat itu terkena air hujan dan tintanya jadi blobor. Sehingga data yang dihasilkan bisa saja tidak akurat. "Saya melihat cara kerjanya kok sangat tidak efektif," ujar dia.
Dari situlah Munir dan timnya memunculkan ide untuk memodifikasi alat pengukur hujan agar menjadi lebih canggih. Dengan cara membuat software yang bisa langsung dimasukkan ke dalam program komputer.
Tim ini pun mencari data tentang alat buatan luar negeri itu di internet. Selama tiga bulan setelah proposal mereka lolos di dikti, mereka terus mencari data dan informasi. Di internet, mereka mengetahui jika alat pengukur hujan di beberapa negara maju masih menggunakan sistem pencacatan manual.
Dikatakan manual, alat yang dipakai BMG ini cukup sederhana. Curah hujan ditangkap oleh tabung. Di dalam tabung itu ada tabung yang lebih kecil dan di bawahnya terdapat selang yang dihubungkan pada alat pengukur curah hujan.
Selanjutnya alat itu menggerakkan alat pencatat yang tugasnya menorehkan tinta di ujung pena khusus yang telah dipasang pada alat itu. Alat pengukur itu semuanya berada di luar kantor. Dengan demikian, secara periodik petugas harus mengganti dan mengambil keluar. Lalu, untuk mencacat lagi sebagai data membutuhkan proses lain.
Dari sinilah tim MIPA bekerja keras. Setelah berkutat dengan berbagai literatur, alat bikinan tim MIPA ini pun jadi. Pada alat itu, air hujan yang jatuh ditampung pada tabung serupa pada model manual yang dipakai BMG saat ini. Pada tabung itu, ada tabung kecil yang di bawahnya terdapat selang yang dihubungkan pada alat pengukur.
"Pada alat yang kami buat ini, kami modifikasi dengan menambahkan alat-alat elektronik yang dilengkapi sensor. Tujuannya, begitu ada perubahan jumlah air, alat itu akan menyensor dan menggerakkan sistem yang ada di dalam mikrokontroler untuk mencacat sendiri. Data yang tercatat langsung dihubungkan pada komputer. Dengan cara itu, seorang petugas di BMG tidak perlu keluar ruangan untuk memantu hasil pencacatan curah hujan. Petugas cukup duduk manis di dalam ruangan, dan jika ingin mendapatkan data hasil curah hujan, tinggal mencetak data yang masuk. Dengan sistem baru ini, sudah tidak membutuhkan tinta khusus dan kertas yang harganya relatif mahal.
Awal pembuatan alat ini cukup membikin mereka hampir putus asa. Salah satunya mendapatkan tabung yang sejenis dengan alat yang ada di BMG. Seluruh anggota tim ini pun harus mencari bengkel yang bisa membikin berbagai model tabung.
"Ada yang mau, tetapi kami harus membeli mikanya sendiri, maka terpaksa kami beli mika dan membawa ke bengkel itu," aku Munir.
Praktis, untuk membuat alat tiruan itu membutuhkan dana yang besar. Alat yang mereka buat itu menghabiskan dana sekitar Rp 3 juta. Itu pun masih berupa alat materialnya, belum biaya untuk mencari informasi di internet dan seperangkat komputernya.
Karena itu, mereka pun merekomendasikan, jika ingin alat ini lebih murah, bisa dibikin massal. ''Tapi saya belum tahu kelanjutan penelitian itu. Rencananya kami akan kerja sama dengan BMG untuk perubahan alat pengukur curah hujan tersebut,'' kata Munir.
Selain tiga emas hasil presentasi yang telah ditulis terdahulu, dari poster, UB juga mendapatkan dua medali emas. Tim ini adalah yang membuat poster berjudul Produksi Fatty Acid Methyl Esters (Fame) sebagai Bahan Baku Biodiesel 20 dari Nitzschia SP Secara Metanolisis. Yang kedua dari Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM) dengan judul Kampung Hijau, Lingkungan Yang Lestari (Study pada Masyarakat Buring, Kota Malang).
| Reply Comment | ||
| |
||
| |
||
Index : Serba-Serbi Malang
- Moch Sueb-Titin, Orang Tua si Bayi ''Raksasa'' Bimo
- Sameiwaty; Berawal Sakit, Kini Dirikan Pelatihan Yoga
- Usai Dilantik, Utak Atik Komisi Badan Kehormatan Jadi Rebutan PD dan PDIP
- Boimin Tetap Jagokan Suhadi Digadang-gadang Jadi Ketua Dewan meski Tersandung ''Dangdut Paripurna''
- H Solichan, Korban Perampokan Tiga Kilo Emas di Jl Borobudur Yakin Bukan Musibah, Anggap Berkah dan Anugerah