Serba-Serbi Malang

Daniel Tangka, Mantan Kroser Nasional yang Kini Bina Kroser Muda

05-Aug-2009 23:21:22

Sukses Daniel tidak lepas dari peran Umi Latifah, sang istri. Setiap kali Daniel turun balapan, anak pemilik PR Djagung tersebut selalu mendampingi suaminya. Maklum, karena Umi juga peduli dengan olahraga yang penuh tantangan tersebut. Tak jarang pula Umi yang menyiapkan segala persiapan sebelum Daniel berlomba.

Setelah menikah pada 1998 lalu, Daniel akhirnya memilih mendirikan tim sendiri. Di bawah payung Djagung Racing Factory (DRF), Daniel membina calon kroser yang secara ekonomi tidak mampu. Kesibukan yang sudah berjalan lebih dari 10 tahun tersebut, secara khusus memberi kepuasaan batin bagi Daniel saat pensiun dari arena balap seperti sekarang ini.

Ditemui akhir pekan lalu di rumahnya di Jl Ki Ageng Gribig 3, kekompakan Daniel dengan Umi tetap terjalin. Saat hendak melalukan sesi wawancara, Daniel memilih menunggu Umi terlebih dahulu. "Istri saya yang banyak tahu agenda dan kegiatan saya. Secara profesional, istri saya sudah seperti manajer tim. Tunggu sebentar ya," kata Daniel singkat.

Tak berapa lama, Umi menuruni anak tangga rumahnya yang luas tersebut. Umi menuju bengkel yang berukuran 20 x 30 meter. Ya, di bengkel tersebut banyak waktu dihabiskan Daniel untuk menyiapkan sepeda motor yang digunakan para krosernya.

Jika tidak sedang latihan atau turun lomba, di bengkel tersebut keduanya bahkan sering berdiskusi menyangkut kebutuhan anak-anak didiknya. Di bengkel tersebut tampak kesibukan teknisinya. Beberapa sepeda motor trail dari tiga merek, yakni KTM, Honda, dan Yahama YZ, sedang diperbaiki. "Di stel saja untuk latihan anak-anak di Sirkut Plengkung," ujar Daniel.

Di bengkel tersebut ada tujuh trail dari kelas 50 cc hingga 250 cc. Harga trail tersebut mulai Rp 48 juta sampai Rp 350 juta. Trail itu disediakan secara gratris untuk memenuhi kebutuhan kroser yang dibinanya.

Ada tujuh kroser yang sekarang ini dinaungi dengan misi sosial. Empat di antaranya, Huda (26 tahun), Pedro (26 tahun), Yusuf Irawan (21 tahun), dan Kresna (14 tahun). Dua lagi yang anak anak kandungnya, yakni Aditya Dwi Permana (anak kedua yang berumur 17 tahun), dan Rafi Tangka (anak ketiga yang berusia 8,5 tahun).

"Pastinya, anak-anak yang kami bina itu dari anak tidak mampu, memiliki talenta, dan memiliki keinginan maju di dunia balap. Ya, di tengah kroser yang sedang mati suri saat ini, peran mereka nanti akan membangkitkan dunia balap," timpal Umi.

Berapa dana yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan krosernya? Untuk yang satu ini Daniel meminta tidak disebut blak-blakan. "Wah, jangan disebut. Senang saja kalau bisa mengantarkan masa depan anak-anak ini," katanya.

Meski tak mau disebut besarnya dana yang sudah dilalokasikan, namun nyata di depan mata berupa tanah seluas 3 hektare. Lahan yang lokasinya di Tlogowaru itu, kini dijadikan area untuk latihan para kroser dan dinamai sirkuit Plengkung.

Belum lagi menyangkut standar keamanan para kroser. Mulai dari satu pakaian, body protector, sabuk, kaca mata, helm, dan aksesori lain. Semuanya disedikan pasangan suami-istri tersebut. Sebagai gambaran saja, untuk sepatu mulai harga Rp 2 jutaan, deker Rp 4 jutaan, satu stel pakaian Rp 2,5 jutaan, dan body protector Rp 1,2 jutaan.

"Namanya misi pembinaan, jadi saya tidak menghitung uang. Kebanggan kami kalau mereka nantinya benar-benar memiliki komitmen di dunia kroser ini," kata Daniel, yang pernah menyabet juara I nasional junior pada 1993-1994 lalu.

Meski begitu, apa yang dilakukan juga tidak ingin sampai mengikat masa depannya. Itu dibuktikan, ketika ada kroser yang mengajukan pindah tim, Daniel cenderung memberi kebebasan. Hanya saja, dari empat kroser yang dibina itu belum ada satu pun memilih keluar dan bergabung tim lain.

Keinginan mewadahi para kroser ini juga dilatarbelakangi keprihatinan anak-anak yang suka balapan liar. Terlintas di benaknya, siapa lagi kalau tidak ada yang memulai. Bagaimana pun mereka aset berbakat yang tidak semua orang bisa peduli. "Itung-itung bisa menemani kedua anak kami yang sepertinya menuruni bakat saya," tambah Daniel.

Membina anak-anak ini bukan tanpa lika-liku. Pengalaman Daniel yang menangani langsung dituntut memiliki kesabaran berlipat. Maklum, beberapa di antaranya ada yang masih berusia anak-anak. Untuk menu latihan tidak bisa diperlakukan layaknya orang dewasa.

Apalagi kalau kroser cilik sedang ngambek. Kalau sudah begitu, dengan naluri kebapakan, bujuk rayu dilancarkan agar dia bisa kembali riang. "Satu lagi, kuncinya orang tua anak-anak ini harus ikut mendukung. Namanya juga orang tua, tentu khawatir dengan keadaan anak-anaknya. Seringkali khawatir kalau anaknya latihan di sirkuit," ujar ayah empat anak ini.

Misi pembinaan ini akan terus dijalani. Terobosan demi terobosan menggandeng pihak-pihak yang memiliki cita-cita sama terus dilakukan. "Kebetulan kami punya rekan di Probolinggo, pemilik Cafe Marknauf. Kami banyak terbantu untuk memaksimalkan pembibitan ini," kata kroser nasional kelahiran Medan ini.Z


 Reply Comment
 
 
Your name
Website http://
Comment
   
Image verification code
Retype image code here