Serba-Serbi Malang
Moch Sueb-Titin, Orang Tua si Bayi ''Raksasa'' Bimo
28-Aug-2009 03:29:52
![]()
Guratan kebahagiaan jelas terlihat di raut wajah pasutri Moch Sueb dan Titin. Sueb tampak begitu bahagia menimang Bimo yang baru 12 jam keluar dari rahim istrinya lewat proses operasi. Tanpa ada kain selendang, dia mengayun-ayunkan Bimo ke kanan dan kiri. Kadang juga ke depan dan belakang.
''Dua kali saya kehilangan bayi. Sekarang Allah menggantikannya dengan yang lebih mantap,'' kata pria berusia 31 tahun ini saat ditemui di Rumah Sakit Bantuan 050804 Lawang atau RS Brawijaya Lawang, Jl Sumberwaras, Lawang.
Meski mata Bimo masih terutup, namun kelihatannya dia bisa mengetahui kegembiraan sang ayah. Bayi yang lahir dengan panjang 52 cm itu tersenyum. Sesekali mulutnya terbuka dan lidahnya ia keluarkan.
Pada awal 2000 lalu, pasutri ini punya bayi laki-lakinya. Namun belum smapai keluar, ia meninggal di dalam kandungan. Waktu itu usianya sembilan bulan sembilan hari dalam kandungan. ''Saya tidak tahu kenapa kok meninggal. Padahal perawatannya maksimal sudah dilakukan saat istri saya mengandung,'' katanya.
Karena meninggal dalam kandungan, oleh dokter kala itu dipaksa keluar. Bayi pertamanya diberi nama Achmad dan dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) di desanya. Setahun kemudian, atau petengahan 2001, istrinya hamil lagi. Namun sayang, saat itu lagi-lagi sang bayi meninggal ketika proses persalinan. ''Air ketubannya pecah terlebih dahulu dalam usia kandungan sembilan bulan sepuluh hari,'' kenang Sueb. Bayi nomor duanya ia beri nama Mochammad Ridho dan ia makamkan di samping kakaknya, Achmad.
Sejak itu perasaan Sueb dan istrinya sempat patah semangat untuk memiliki anak. Namun kedua orang tuanya mendesak agar tetap berusaha. Cukup lama hasrat menimang buah hati itu terpendam. Sekitar delapan tahunan. Sejak itu, doa selalu mereka panjatkan pada Allah.
Doa mereka pun terkabul sekitar akhir 2008 lalu. Belajar dari pengalaman kematian dua bayinya, Sueb dan Titin sangat menjaga kondisi kesehatan si jabang bayi. Untuk kontrol bidan, ia lakukan rutin setiap minggu sekali. Saat akan mendekati masa usia kandungan empat bulan, intensitas kontrol ke bidan ditambah. Saat itu dia mengetahui jika hasil USG (ultra sonografi) kandungan istrinya menunjukkan bentuk badan anaknya besarnya dua kali lipat dari ukuran badan bayi pada usia kehamilan yang sama. Rata-rata besar bayi empat bulan tak sampai satu kilogram. ''Bidang saat itu sempat kaget dengan ukuran si jabang bayi,'' kenang Sueb.
Bayi Bimo lahir Senin (24/8) malam di Rumah Sakit Brawijaya, Lawang, melalui proses operasi sekitar pukul 23.30. Bimo memiliki berat badan dua kali ukuran bayi normal yang biasanya antara 2,5 kilogram sampai 3,5 kilogram. Operasi kelahiran oleh tim medis dilakukan karena ukuran badan bayi melebihi ukuran normal. Apalagi saat itu, Titin mengalami tekanan darah tinggi 198 mmHg. Normalnya untuk wanita seusia Titin 120 mmHg.
Kelahiran Bimo termasuk maju dari yang dijadwalkan, sedianya 27 Agustus ini. Mendapati bayi yang besar, pria yang kesehariannya bekerja sebagai tukang bangunan ini juga kaget. Padahal konsumsi makan istrinya ketika hamil normal-normal saja. Apalagi ketika memasuki masa kehamilan, sejak awal istrinya tidak pernah nyidam. ''Semuanya los (makan apa saja bisa). Andaikan ingin makan ya makan, jika tidak ada ya ngempet dulu,'' kata Sueb.
Karena memiliki badan berlebih, Sueb mengaku juga resah. Karena baju bayi milik dua kakaknya yang telah meninggal tidak lagi cukup dikenakan. ''Bagaimana bisa cukup, lha badan Bimo sekarang saja sudah seperti bayi berusia 6 bulan,'' kata Sueb.
Terpaksa mulai sekarang dia harus mencari baju bayi yang usianya jauh lebih tua. Yakni baju yang biasa dipakai bayi enam bulan. Selain masalah pakaian, kebutuhan susu juga ia perkirakan akan menemukan kesulitan karena konsumsinya harus lebih. Bimo harus menambah porsi susunya ketimbang bayi dengan berat badan normal.
Di RS saja, dalam seharinya Bimo harus minum sebanyak 480 cc (setengah liter kurang). Susu sebanyak itu diberikan delapan kali dengan takaran dalam tiga jam 60 cc. Jumlah susu yang dikonsumsi termasuk dua kali lebih banyak ketimbang bayi normal yang selama tiga jam hanya perlu diberi 25 cc hingga 35 cc. Sementara air susu ibu (ASI) istrinya tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan minum Bimo.
Dengan penghasilannya pas-pasan sebagai kuli bangunan, Sueb mengaku harus lebih giat bekerja supaya bisa dapat uang banyak untuk mencukupi kebutuhan bayinya. Yang ia pegang teguh adalah pada umumnya orang yang memperoleh bayi membawa berkah. ''Yang jelas, Bimo pasti mendatangkan berkah bagi keluarga saya,'' katanya.
Keyakinan Sueb, jika Bimo adalah bayi keberuntungan sudah terbukti. Sehari setelah kelahiran Bimo, perhatian orang banyak tertuju padanya. Termasuk kedatangan banyak wartawan yang ingin mengabadikan kelahirannya. ''Wah pokoknya Bimo bisa membuat orang tuanya semakin terkenal,'' ujar Sueb seraya terkekeh.
Nantinya jika sudah diperbolehkan pulang, Bimo akan ia tidurkan di tempat tidurnya yang besar. Tempat tidur itu sebelumnya ia gunakan bersama istrinya untuk tidur. ''Jika tidak cukup, nanti terpaksa saya yang ngalah tidur di tempat lain,'' kata Sueb.
Rencana untuk menidurkan Bimo di boks khusus bayi terpaksa ia gagalkan karena khawatir boks tersebut tidak cukup. Apalagi bayi ini cukup aktif, sering bergerak.
| Reply Comment | ||
| |
||
| |
||
Index : Serba-Serbi Malang
- Perjuangkan Hak Tanah Warisan, Sekeluarga Ditahan Anak-Anak Telantar dan Enggan Sekolah
- Ingin pasang iklan lowongan? Gratis disini..
- Hiperaktif, Belum Tentu Autis
- malangraya.kabarku.com Menduduki Pagerank 3 di Google
- Polling diharamkannya Facebook
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10