Berita Kota Malang

Santri Flu Burung: Minta Ponpes Karantina Pasien

30-Jul-2009 23:28:45

MALANG - Sebelum ratusan santri mengalami flu, sebenarnya beberapa minggu lalu ada ratusan unggas milik warga yang mati mendadak. Unggas yang mati itu berdekatan dengan lokasi Pondok Pesantren Babussalam. "Menurut kabar yang saya terima, mulai 1 Juli lalu ayam milik warga belakang pondok banyak yang mati mendadak. Ada satu warga yang punya 30 ekor ayam, semuanya mati," ucap dr Rosihan Anwar, kepala Puskesmas Pagelaran.


Namun, setelah dilakukan pemeriksaan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang beberapa waktu lalu, banyaknya ayam yang mati mendadak tersebut bukan karena flu burung. "Dinas peternakan bilang negatif flu burung," tambahnya.

Sebelum banyak santri yang terserang flu, pada 12 Juli lalu juga ada tiga warga Banjarejo terkena flu. Namun, setelah mendapatkan pengobatan, mereka akhirnya sembuh. Obat yang diberikan kepada warga bukan tamiflu, tapi obat flu biasa.

Karenanya, saat mengobati santri, dinkes juga memberikan obat flu biasa. "Untuk memberikan tamiflu, kami masih menunggu positif atau tidaknya mereka mengidap flu babi atau flu burung. Untuk saat ini, kami masih belum bisa memastikannya," lanjut dia.

Dinkes sendiri sebenarnya sudah mendistribusikan tamiflu masing-masing 200 tablet kepada 39 puskesmas. Termasuk juga ke Puskesmas Pagelaran. Sedangkan di dinkes sendiri, saat ini masih ada sekitar 5 ribu sampai 6 ribu stok tamiflu.

Selain di Babussalam, masih ada dua pondok pesantren di Singosari yang juga terserang flu secara bersamaan. Yakni, Pondok Pesantren Alquran Nurul Huda dan Ponpes Al Ishlahiyah. Serangan flu di pondok pesantren sebelumnya juga terjadi di daerah lainnya seperti Ponorogo dan Jombang.

Karenanya, Kepala Dinskes Kabupaten Malang dr Agus Wahyu Arifin meminta kepada pengasuh pondok pesantren untuk menjaga kebersihan, kesehatan, dan kualitas makanan. Rencananya, dalam waktu dekat dinkes akan mengeluarkan surat edaran ke semua pondok pesantren yang ada di wilayahnya.Penjagaan kebersihan di ponpes mutlak dilakukan, karena penyebaran penyakit menular di ponpes lebih mudah. Itu karena komunitas di ponpes cukup padat. "Lantai-lantai harus dibersihkan dengan sabun," pinta Agus.

Dia juga meminta kepada pengasuh pondok pesantren untuk meminta semua santrinya menggunakan masker. Selain masker khusus, menurutnya, sapu tangan juga bisa difungsikan sebagai penutup mulut. "Dinkes tak menyediakan masker khusus dan memang tak ada anggarannya untuk pembelian masker," katanya.

Selain itu, dinkes juga berharap agar pengasuh pondok pesantren mengarantina para santrinya yang sakit. Sehingga penyakitnya tak menyebar lebih luas kepada masyarakat di luar pondok. Khusus untuk menangani banyaknya santri yang terkena flu, dinkes sudah mengirimkan sampel lendir tenggorokan ke Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA).

Di Singosari yang diambil sampelnya ada lima orang, sedangkan di Pagelaran yang diambil sampelnya ada tujuh orang. "Yang kami ambil sampelnya adalah santri yang kondisinya paling buruk," jelas Agus.

Bila RSSA sudah mempunyai alat untuk menguji sampel flu babi atau flu burung, besar kemungkinan hasilnya bisa diketahui dalam waktu lima hari. Namun, bila RSSA tak mempunyai alatnya, hasilnya bisa diketahui dalam waktu satu minggu.

Sementara itu, Hj Darwis, pengasuh Ponpes Babussalam sudah mengintsruksikan para santrinya untuk membersihkan lingkungan pondok. "Kami takut ini flu babi. Saya harap dinkes mampu menyediakan masker bagi santri," harapnya.

 


 Reply Comment
 
 
Your name
Website http://
Comment
   
Image verification code
Retype image code here