Berita Kota Malang
RSSA Malang Antisipasi Virus Flu Babi
02-May-2009 06:33:47
![]()
MALANG -Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) siap menampung pasien yang diduga mengidap flu babi. Kamis (30/4) lalu, rapat yang digelar seluruh jajaran petinggi RS milik Pemprov Jatim ini telah membentuk tim penanggulangan flu babi.
Dokter Gatoet Ismanoe SpPD (K) PTI dipilih sebagai ketua Tim Swine Flu (Flu Babi) RSSA. Dokter yang sebelumnya menjabat sebagai ketua Tim Penanggulangan Flu Burung (Avian Influence) RSSA ini membawahi 20 anggota yang terdiri atas dokter spesialis penyakit dalam, spesialis paru, patologi anatomi, mikrobiologi, dan perawat.
Wakil Direktur Bidang Medis dan Pelayanan RSSA Dr dr Basuki Bambang Purnomo SpU mengatakan, meski telah membentuk Tim Flu Babi, bukan berarti Tim Flu Burung dihapus atau diganti. "Kedua tim ini masih tetap ada, dengan personel serta tugas yang hampir sama,'' ungkapnya. Hanya, ada beberapa poin tugas yang ditambah sesuai karakter masing-masing penyakit.
Nantinya, ruangan yang digunakan menampung pasien flu babi akan menempati ruang perawatan pasien flu burung yang terletak di dekat ruang 28 RSSA. "Ruangannya di pojok belakang," kata dokter spesialis urologi ini.
Menurut Basuki, antara flu burung dan flu babi memiliki banyak kesamaan untuk cara penanganannya. Keduanya sama-sama tergolong penyakit menular dan harus diminimalisasi kontak dengan orang banyak. Cuma, flu burung memiliki rumus H5N1, sedangkan flu babi H1N1.
Meski secara umum jenis penyakit ini sama, bukan berarti obatnya juga sama. "Apabila penderita suspect flu burung, tindakan awal bisa diberi obat tamiflu, belum tentu bagi pasien flu babi,'' ujarnya. Sebab, hingga sekarang belum ada uji klinis yang menyebutkan tamiflu adalah obat untuk meredam laju infeksi penyakit flu babi di tubuh penderita. Meski belum ada uji klinis obat apa yang cocok untuk penderita flu babi, sementara pemberian tamiflu masih bisa dimaklumi penggunaannya. RSSA juga telah menyiapkan stok tamiflu dalam jumlah cukup.
Basuki mengatakan, meski secara fakta di Indonesia belum ada korban terjangkit flu babi, bahkan hingga meninggal, bukan berarti ancaman ini disepelekan. Masyarakat harus tetap waspada karena kemungkinan flu babi mewabah di Indonesia atau di Malang juga lumayan besar. Indikasinya, di Malang jumlah peternakan babi lumayan banyak.
Gatoet menambahkan, meski sepintas sama, flu burung dan flu babi berbeda. Untuk itu, minggu depan dia akan melakukan pelatihan sekaligus seminar singkat bagi para dokter serta perawat di RSSA untuk mengenalkan apa itu flu babi. Utamanya di bagian kegawatdaruratan, yang menjadi pintu masuk pertama para penderita pasien flu babi. "Bagaimana teknis penanganan pertama yang harus dilakukan akan kami latih kembali agar ingat dan waspada," ucap Gatoet.
| Reply Comment | ||||
|
||||
| |
||||


