Berita Kota Malang
RSAUB Jalan Terus: Warga Takut Kamar Mayat dan Pencemaran Limbah
27-Aug-2009 02:32:29
![]()
MALANG - Meski mendapat protes warga, rencana pendirian Rumah Sakit Akademik Universitas Brawijaya (RSAUB) di kawasan Jalan Soekarno-Hatta akan jalan terus. Untuk memmuluskan langkah tersebut, UB akan kembali berdialog dengan warga perumahan Griya Shanta Eksekutif.
Dialog itu lebih pada upaya untuk menjelaskan konsep pembangunan RS pendidikan untuk fakultas kedokteran (FK) UB itu. "Kami sudah bertemu 20-an perwakilan masyarakat minggu lalu. Pertemuan itu akan kami tindaklanjuti," ujar pembantu rektor II UB Warkum Sumitro SH MS kemarin.
Menurut dia, sejauh ini, memang belum ada sosialisasi yang rinci kepada warga. Termasuk saat UB memancang papan pengumuman yang berisi tulisan akan dibangun rumah sakit pendidikan. Tetapi, pihak UB siap menjelaskan secara detail rancangan pembangunan gedung yang direncanakan berlantai delapan itu. Mulai dari amdal (analisa mengenai dampak lingkungan) hingga model bangunannya.
Dikatakan Warkum, pihak UB akan menjelaskan by data terkait semua proses pengolahan limbah. Menurut dia, semuanya dikonsep dengan rapi, sehingga tidak mengganggu warga. Dengan demikian, diharapkan warga bisa memahami dan mengerti semua proses pengolahan limbah, dan kemungkinan dampak yang ditimbulkan. Dengan begitu masyarakat tidak hanya menduga-duga terkait penolakannya itu. "Apalagi bangunan ini juga jauh dari pemukiman, jaraknya sekitar 200 meter," jelas dia.
Apa selama ini UB sudah mengajukan persyaratan untuk pembangunan proyek itu? Dikatakan Warkum semuanya sudah dilakukan oleh UB. Semua dokumen persyaratan sudah dipenuhi. Tetapi, dia juga masih belum tahu kapan proses perizinan itu akan selesai. Menurut dia, pembangunan fisik baru dilakukan jika semuanya sudah selesai. Yang jelas dana sekitar Rp 66 miliar untuk tahap pertama sudah siap. Berikutnya pusat juga akan mengucurkan dana yang totalnya mendekati angka Rp 700 miliar itu.
Ditanya soal kemungkinan memindah di lokasi lain, Warkum mengatakan, yang menyetujui di lokasi itu adalah pusat. Justru, karena tempatnya yang strategis itu, UB didesak untuk segera membangun. "Kami tidak punya tempat yang lain," ujar dia.
Malahan, menurut dia, seharusnya warga justru senang dibangun RS itu. Karena RS yang dibangun UB, juga pasti akan ada efek positifnya.
Sementara, beberapa warga yang ditemui Radar kemarin mengaku tidak setuju jika di wilayah itu akan dibangun rumah sakit. "Kalau saya sebenarnya juga tidak setuju. Karena terlalu dekat dengan pemukiman, limbahnya kan berbahaya," ujar Devi Fatmawati, wagra Griya Shanta Eksekutif Blok C yang berada di sebelah utara lokasi.
Menurut ibu rumah tangga ini, meski secara resmi warga di kawasan itu belum musyawarah, tetapi dia secara pribadi tidak setuju. Menurut dia, di wilayahnya ketua RT nya masih belum meminta pendapat warga. Yang sudah melakukan penolakan resmi adalah warga di Blok P dan M. Mereka sudah mengirimkan keberatan itu ke UB.
Sementara menurut seorang warga yang ditemui Radar di masjid yang berada di kawanan tersebut, warga memang keberatan dengan rencana itu.
Laki-laki yang enggan disebut namanya ini mengatakan, warga tidak keberatan jika di sana dibangun kampus untuk pendidikan, asal bukan rumah sakit. Untuk itu, sempat ada saran dari warga agar UB membangun kampus di kawasan itu, sedangkan kampus yang saat ini digunakan FK difungsikan sebagai rumah sakit. Sehingga, semua kegiatan terkait rumah sakit berada di dalam kampus UB. "Saya kira itu akan lebih baik," ujar dia usai salat dhuhur.
Ketua RT 4/10 Kelurahan Jatimulyo Kecamatan Lowokwaru, Ari Sutikno kepada wartawan mengatakan, dalam pertemuan dengan rektor pekan lalu, warga hanya menanyakan izin pembangunan RS itu. Tetapi dikatakan oleh UB jika semua itu masih proses. Juga disampaikan jika UB akan mengonsep pembangunan itu menggunakan konsep green hospital. Dalam kesempatan itu warga juga keberatan dengan ancaman banjir dan limbah. Termasuk warga takut dengan adanya kamar mayat. Lalu oleh pihak UB, disampaikan jika kamar mayat berada di depan tidak di belakang dekat rumah warga. "Tetapi kami tetap menolak jika tetap dibangun rumah sakit di sana. Tetapi kalau dibangun ruang kuliah untuk FK silakan," terang dia.
Ari juga menyampaikan, jika warga merasa keberatan karena belum ada sosialisasi tiba-tiba ditancapkan papan nama yang berisi rencana pembangunan RS itu.
| Reply Comment | ||
| |
||
| |
||


