Berita Kota Malang
Empat Puskesmas Kesulitan Air Akibat Pembangunan Kurang Koordinasi
31-Aug-2009 22:41:00
![]()
MALANG - Air bersih merupakan kebutuhan pokok bagi fasilitas umum seperti puskesmas. Namun, di Kabupaten Malang, dari 39 puskesmas yang dimiliki pemkab, setidaknya ada 4 puskesmas yang kesulitan mendapatkan air bersih.
Keempat puskesmas itu adalah Puskesmas Sitiarjo, Puskesmas Gedangan, Puskesmas Pagak, dan Puskesmas Sumbermanjing Wetan. Untuk mendapatkan stok air bersih, mereka harus membeli dari tangki air berkapasitas 5.000 liter.
Sulitnya mendapatkan kesulitan air bersih bagi puskesmas disebabkan beberapa hal. Yang paling utama adalah lemahnya koordinasi antara instansi di pemkab dalam perencanaan pembangunan puskesmas. Misalnya, lahan yang dipilih untuk mendirikan puskesmas jauh dari sumber air.
"Penyebab utama memang pemilihan lahan yang kurang tepat. Sepertinya memang kurang matang dalam perencanaan dan pembangunannya," kata salah satu sumber Radar di lingkungan Pemkab Malang.
Seandainya pada saat pembangunan puskesmas, dinkes bekerja sama dengan instansi lainnya, mungkin kesulitan bisa dihindari. "Tentunya instansi lain bisa memberitahukan daerah-daerah mana yang mudah airnya atau yang sulit air," sambungnya.
Benarkah pembangunan puskesmas yang kesulitan air itu karena kesalahan dinas kesehatan (dinkes) dalam pemilihan lahan? Kepala Dinkes Kabupaten Malang dr Agus Wahyu Arifin enggan memberikan jawaban.
Dia berdalih, pembangunan puskesmas yang kesulitan air itu bukan pada eranya. "Yang sudah terlanjur biarkan terlanjur. Sekarang, bagaimana caranya mencari solusi yang terbaik agar kebutuhan pokok air bersih bisa terpenuhi," ucap Agus.
Sebenarnya, papar mantan aktivis Pemuda Pancasila (PP) itu, dinkes sudah berupaya maksimal untuk menuntaskan persoalan air bersih di Puskesmas. Di Sitiarjo misalnya. Dinkes sudah berusaha membuat sumur bor artesis. Namun, hingga kedalaman 60 meter, juga belum ditemukan air.
Untuk sementara, empat puskesmas tersebut membeli air dari tangki senilai antara Rp 150 ribu hingga Rp 180 ribu per tangkinya. Kapasitas air 5.000 liter itu bisa digunakan dalam jangka waktu 3-6 hari. Bila dalam kondisi KLB (kejadian luar biasa), stok satu tangki bisa habis hanya dalam waktu sehari. "Untuk pembelian airnya diambilkan dari dana operasional puskesmas," tambahnya.
Pada 2010 mendatang, dinkes akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait misalnya dinas cipta karya ataupun PDAM. Diharapkan dengan adanya koordinasi yang baik, cipta karya bisa membangun instalasi atau pipanisasi air bersih yang mengarah ke puskesmas.
Apalagi, ungkap Agus, di wilayah Sitiarjo sudah ditemukan sumber air yang cukup besar. "Tapi, keberadaan sumber air itu tak akan ada gunanya bagi puskesmas, jika tak ada instalasi atau pipa yang menghubungkan sumber air dengan puskesmas," lanjut mantan Kepala RSUD Kanjuruhan, Kepanjen.
| Reply Comment | ||
| |
||
| |
||


